PERKEMBANGAN SENI RUPA DI
INDONESIA PADA PERIODE PERINTISAN
Kelompok : 1
Anggota
Kelompok : Srikandi Eka Suci
Irni Fitriyani
Joshua
Rifando
Lukman Suryo Wibowo
Rani Pitri Yani
Nita Nurwitasari
R . M Febrian Dwi Cahya
Vina Noor Maulida
Violytha Adinda
Kelas : XI –
IIS 5
SMA
NEGERI 4 CIMAHI
Jl.Kihapit
barat no. 323 Leuwigajah Cimahi Selatan
PERKEMBANGAN SENI RUPA DI
INDONESIA PADA PERIODE PERINTISAN
A . Masa Perintisan yaitu sekitar tahun
1817 sampai tahun 1880
Pada
masa perintisan ini tokoh yang paling dikenal adalah Raden Saleh, dengan
nama lengkap Raden Saleh Syarif Bustaman Lahir di Terbaya, pada tahun 1814
-1880, putra keluarga bangsawan pribumi yang mampu melukis gaya atau cara
barat, baik dari segi alat, media maupun teknik, dengan penggambaran yang
natural.
Raden Saleh banyak mendapat bimbingan dari pelukis Belgia Antonio Payen, pelukis Belanda A. Schelfhouf dan C. Kruseman di Den Haag. Dia sering berkeliling dunia dan pernah tinggal di Negara-Negara Eropa.
Raden Saleh banyak mendapat bimbingan dari pelukis Belgia Antonio Payen, pelukis Belanda A. Schelfhouf dan C. Kruseman di Den Haag. Dia sering berkeliling dunia dan pernah tinggal di Negara-Negara Eropa.
B. Sejarah Raden Saleh
Raden Saleh Sjarif
Boestaman (1807 atau 1811 - 23 April 1880) adalah pelukis Indonesia beretnis Arab-Jawa yang
mempionirkan seni modern Indonesia (saat itu Hindia Belanda).
Lukisannya merupakan perpaduan Romantisisme yang
sedang populer di Eropa saat itu dengan elemen-elemen yang menunjukkan latar
belakang Jawa sang pelukis.
Raden Saleh dilahirkan dalam sebuah keluarga Jawa ningrat. Dia adalah cucu dari SayyidAbdoellah Boestaman dari sisi ibunya. Ayahnya adalah Sayyid Hoesen bin Alwi bin Awal bin Jahja, seorang keturunan Arab. Ibunya bernama Mas Adjeng Zarip Hoesen, tinggal di daerah Terboyo, dekat Semarang. Sejak usia 10 tahun, ia diserahkan pamannya, Bupati Semarang, kepada orang-orang Belanda atasannya di Batavia. Kegemaran menggambar mulai menonjol sewaktu bersekolah di sekolah rakyat (Volks-School).
Raden Saleh dilahirkan dalam sebuah keluarga Jawa ningrat. Dia adalah cucu dari SayyidAbdoellah Boestaman dari sisi ibunya. Ayahnya adalah Sayyid Hoesen bin Alwi bin Awal bin Jahja, seorang keturunan Arab. Ibunya bernama Mas Adjeng Zarip Hoesen, tinggal di daerah Terboyo, dekat Semarang. Sejak usia 10 tahun, ia diserahkan pamannya, Bupati Semarang, kepada orang-orang Belanda atasannya di Batavia. Kegemaran menggambar mulai menonjol sewaktu bersekolah di sekolah rakyat (Volks-School).
Keramahannya bergaul memudahkannya
masuk ke lingkungan orang Belanda dan
lembaga-lembaga elite Hindia-Belanda. Seorang kenalannya, Prof. Caspar Reinwardt, pendiri Kebun Raya Bogor sekaligus
Direktur Pertanian, Kesenian, dan Ilmu Pengetahuan untuk Jawa dan pulau sekitarnya, menilainya
pantas mendapat ikatan dinas di departemennya. Kebetulan di instansi itu ada
pelukis keturunan Belgia, A.A.J. Payen yang didatangkan dari Belanda untuk
membuat lukisan pemandangan di Pulau Jawa untuk hiasan kantor Departemen van Kolonieen di Belanda. Payen tertarik pada bakat Raden Saleh dan
berinisiatif memberikan bimbingan.
Payen memang tidak menonjol di
kalangan ahli seni lukis di Belanda, namun mantan mahaguru Akademi Senirupa di Doornik, Belanda,
ini cukup membantu Raden Saleh mendalami seni lukis Barat
dan belajar teknik pembuatannya, misalnya melukis dengan cat minyak. Payen juga mengajak pemuda Saleh dalam perjalanan
dinas keliling Jawa mencari model pemandangan untuk
lukisan. Ia pun menugaskan Raden Saleh menggambar tipe-tipe orang Indonesia di
daerah yang disinggahi.
Terkesan dengan bakat luar biasa anak
didiknya, Payen mengusulkan agar Raden Saleh bisa belajar ke Belanda. Usul ini didukung oleh Gubernur Jenderal G.A.G.Ph. van der Capellen yang memerintah waktu itu (1819-1826),
setelah ia melihat karya Raden Saleh.
Tahun 1829,
nyaris bersamaan dengan patahnya perlawanan Pangeran Diponegoro oleh Jenderal Hendrik Merkus de Kock,
Capellen membiayai Saleh belajar ke Belanda. Namun, keberangkatannya itu menyandang misi lain.
Dalam surat seorang pejabat tinggi Belanda untuk
Departemen van Kolonieen tertulis, selama perjalanan ke Belanda
Raden Saleh bertugas mengajari Inspektur Keuangan Belanda de Linge tentang
adat-istiadat dan kebiasaan orang Jawa, Bahasa Jawa, dan Bahasa Melayu. Ini menunjukkan kecakapan lain Raden Saleh.
Dua tahun pertama di Eropa ia pakai
untuk memperdalam bahasa Belanda dan belajar teknik mencetak menggunakan batu.
Sedangkan soal melukis, selama lima tahun pertama, ia belajar melukis potret
dari Cornelis
Kruseman dan tema
pemandangan dari Andries
Schelfhoutkarena karya mereka memenuhi selera dan mutu rasa seni
orang Belanda saat
itu. Krusseman adalah pelukis istana yang kerap menerima pesanan pemerintah Belanda dan
keluarga kerajaan.
Raden Saleh makin mantap memilih seni
lukis sebagai jalur hidup. Ia mulai dikenal, malah berkesempatan berpameran di
Den Haag danAmsterdam. Melihat lukisan Raden Saleh, masyarakat Belanda
terperangah. Mereka tidak menyangka seorang pelukis muda dari Hindia dapat
menguasai teknik dan menangkap watak seni lukis Barat.
Saat masa belajar di Belanda usai,
Raden Saleh mengajukan permohonan agar boleh tinggal lebih lama untuk belajar
"wis-, land-, meet- en werktuigkunde (ilmu pasti, ukur tanah, dan pesawat),
selain melukis. Dalam perundingan antara Menteri Jajahan, Raja Willem I (1772-1843),
dan pemerintah Hindia Belanda, ia boleh menangguhkan kepulangan ke Indonesia.
Tapi beasiswa dari kas pemerintah Belanda dihentikan.
Wawasan seninya pun makin berkembang
seiring kekaguman pada karya tokoh romantisme Ferdinand Victor Eugene
Delacroix (1798-1863),
pelukis Perancis legendaris.
Ia pun terjun ke dunia pelukisan hewan yang dipertemukan dengan sifat agresif
manusia. Mulailah pengembaraannya ke banyak tempat, untuk menghayati
unsur-unsur dramatika yang ia cari.
Saleh membangun sebuah rumah di
sekitar Cikini yang didasarkan istana
Callenberg, dimana ia pernah tinggal saat berada di Jerman. Dengan
taman yang luas, sebagian besarnya dihibahkan untuk kebun binatang dan taman
umum pada 1862, yang tutup saat peralihan abad. Pada 1960, Taman Ismail Marzuki dibangun di bekas taman tersebut, dan
rumahnya sampai sekarang masih berdiri sebagai Rumah Sakit PGI Cikini.
Tokoh romantisme Delacroix dinilai
memengaruhi karya-karya berikut Raden Saleh yang jelas menampilkan keyakinan
romantismenya. Saat romantisme berkembang di Eropa di awal abad 19, Raden Saleh
tinggal dan berkarya di Perancis (1844 - 1851).
Ciri romantisme muncul dalam
lukisan-lukisan Raden Saleh yang mengandung paradoks. Gambaran keagungan
sekaligus kekejaman, cerminan harapan (religiusitas) sekaligus ketidakpastian
takdir (dalam realitas). Ekspresi yang dirintis pelukis Perancis Gerricault (1791-1824)
dan Delacroix ini diungkapkan dalam suasana dramatis yang mencekam, lukisan
kecoklatan yang membuang warna abu-abu, dan ketegangan kritis antara hidup dan
mati.
Lukisan-lukisannya yang dengan jelas
menampilkan ekspresi ini adalah bukti Raden Saleh seorang romantisis. Konon,
melalui karyanya ia menyindir nafsu manusia yang terus mengusik makhluk lain.
Misalnya dengan berburu singa, rusa, banteng, dll. Raden Saleh terkesan tak
hanya menyerap pendidikan Barat tetapi juga mencernanya untuk menyikapi
realitas
di hadapannya. Kesan kuat lainnya adalah Raden Saleh percaya pada
idealisme kebebasan dan kemerdekaan, maka ia menentang penindasan.
Raden Saleh terutama
dikenang karena lukisan historisnya, Penangkapan
Pangeran Diponegoro, yang
menggambarkan peristiwa pengkhianatan pihak Belanda kepada Pangeran Diponegoro yang mengakhiri Perang Jawa pada
1830. Sang Pangeran dibujuk untuk hadir di Magelang untuk
membicarakan kemungkinan gencatan senjata, namun pihak Belanda tidak memenuhi
jaminan keselamatannya, dan Diponegoro pun ditangkap.
Pada waktu Saleh, peristiwa tersebut
telah dilukis oleh pelukis Belanda Nicolaas Pieneman dan
dikomisikan oleh Jenderal de Kock. Diduga Saleh melihat lukisan Pieneman
tersebut saat ia tinggal di Eropa. Seakan tidak setuju dengan gambaran
Pieneman, Raden memberikan sejumlah perubahan signifikan pada lukisan versinya;
Pieneman menggambarkan peristiwa tersebut dari sebelah kanan, Saleh dari kiri.
Sementara Pieneman menggambarkan Diponegoro dengan wajah lesu dan pasrah, Saleh
menggambarkan Diponegoro dengan raut tegas dan menahan amarah. Pieneman memberi
judul lukisannyaPenyerahan Diri Diponegoro, Saleh memberi judul Penangkapan Diponegoro.
Diketahui bahwa Saleh sengaja menggambar tokoh Belanda di lukisannya dengan
kepala yang sedikit terlalu besar agar tampak lebih mengerikan.
Perubahan-perubahan ini dipandang
sebagai rasa nasionalisme pada diri Saleh akan tanah kelahirannya di Jawa. Hal ini juga dapat terlihat pada busana pengikut
Diponegoro. Pieneman sendiri tidak pernah ke Hindia Belanda, dan karena itu ia menggambarkan pengikut
Diponegoro seperti orang Arab. Gambaran
Saleh cenderung lebih akurat, dengan kain batik danblangkon yang
terlihat pada beberapa figur. Saleh juga menambahkan detil menarik, ia tidak
melukiskan senjata apapun pada pengikut Diponegoro, bahkan keris Diponegoro pun
tidak ada. Ini menunjukkan bahwa peristiwa tersebut terjadi pada bulanRamadhan, karena itu Pangeran dan pengikutnya datang dengan
niat baik.
Setelah selesai dilukis pada 1857,
Saleh mempersembahkan lukisannya kepada Raja Willem III di Den Haag. Penangkapan
Pangeran Diponegoro baru
pulang ke Indonesia pada 1978. Kepulangan lukisan tersebut merupakan perwujudan
janji kebudayaan antara Indonesia-Belanda pada 1969, tentang kategori
pengembalian kebudayaan milik Indonesia yang diambil, dipinjam, dan
dipindahtangan ke Belanda di masa lampau. Namun dari itu, lukisan Penangkapan tidak termasuk ketiga kategori
tersebut, karena sejak awal Saleh memberikannya kepada Raja Belanda dan tidak
pernah dimiliki Indonesia. Lukisan tersebut akhirnya diberikan sebagai hadiah
dari Istana Kerajaan Belanda dan
sekarang dipajang di Istana Negara, Jakarta
Selama hidupnya, banyak
pejabat dan bangsawan Eropa yang mengagumi Raden Saleh. Lukisannya dipesan oleh
tokoh-tokoh seperti bangsawan Sachsen Coburg-Gotha, keluarga Ratu Victoria, dan sejumlah gubernur jenderal seperti Johannes van den Bosch, Jean Chrétien Baud, dan Herman Willem Daendels.
Tak sedikit pula yang menganugerahinya tanda penghargaan, di antaranya terdapat
bintang Ridder der Orde van de
Eikenkoon (R.E.K.), Commandeur met de ster der Frans
Joseph Orde (C.F.J.), Ksatria
Orde Mahkota Prusia (R.K.P.), dan Ridder
van de Witte Valk (R.W.V.).
Pada tahun 1883, diadakan pameran lukisan
Raden Saleh di Amsterdam untuk
memperingati tiga tahun wafatnya Saleh, atas prakarsa Raja Willem III dan Ernst dari Sachsen-Coburg-Gotha. Di antaranya terdapat lukisan Hutan Terbakar, Berburu Kerbau di Jawa, dan Penangkapan Pangeran Diponegoro
Sedangkan penghargaan dari pemerintah Indonesia diberikan
pada tahun 1969 lewat Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan secara anumerta, berupa Piagam
Anugerah Senisebagai Perintis
Seni Lukis di Indonesia. Wujud perhatian lain adalah, pembangunan ulang
makamnya di Bogor yang dilakukan oleh Ir. Silaban atas
perintah Presiden Soekarno, sejumlah lukisannya dipakai untuk ilustrasi benda
berharga negara, misalnya akhir tahun 1967, PTT mengeluarkan perangko seri
Raden Saleh dengan reproduksi dua lukisannya.
C . Ciri-ciri karya lukisan pada masa ini
dengan Raden Saleh sebagai pelopornya adalah :
- Bergaya natural dan romantisme
- Kuat dalam melukis potret dan
binatang
- Pengaruh romantisme Eropa
terutama dari Delacroix.
- Pengamatan yang sangat baik
pada alam maupun binatang
D . Beberapa judul Karya Raden Saleh:
- Hutan terbakar
- Perkelahian antara hidup dan
mati
- Pangeran Diponegoro
- Berburu Banteng di Jawa
- Potret para Bangsawan
E . Contoh karya-karya masa perintisan
Deanles
Karya Raden Saleh
Berburu
Rusa - karya Raden Saleh
Badai/TheStorm 1851 - Raden Saleh
Daftar Pustaka




Tidak ada komentar:
Posting Komentar